Showing posts with label Diabetes Miletus. Show all posts
Showing posts with label Diabetes Miletus. Show all posts

Monday, November 25, 2019

Ini Minuman Yang Cocok Untuk Penderita Diabetes

Sumber: Google

Pada tanggal 14 November diperingati hari diabetes seduni. Pada hari ini mengkampanyekan kesadaran global yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan penyakit diabetes. Dan cara mencegahnya.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 1,6 juta kematian disebabkan oleh diabetes pada 2016. Pada 2017, 72 juta kasus diabetes dilaporkan di India dan jumlahnya diperkirakan akan berlipat ganda menjadi 134 juta pada 2025.

Diabetes adalah penyakit kronis yang terjadi ketika pankreas tidak dapat memproduksi cukup insulin atau ketika tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang dihasilkannya. Jadi, untuk mengelola diabetes, diet sehat dan minuman rendah kalori sangat disarankan.

The American Diabetes Associationmenyarankan minuman rendah kalori untuk mencegah lonjakan kadar gula darah. Kali ini AkuratHealthakan fokus pada minuman terbaik untuk penderita diabetes.

1. Air putih 

Penderita diabetes harus minum air yang cukup untuk membantu tubuh menghilangkan kelebihan glukosa melalui urin. Sebuah penelitian mengungkapkan, minum air putih dalam jumlah yang lebih tinggi menurunkan risiko diabetes tipe 2 . Institute of Medicinemerekomendasikan wanita untuk minum 9 gelas air dan pria harus minum 13 gelas air.

2. Air Flavoured 

Ini merupakan air yang disiram dengan irisan buah jeruk, seperti lemon dan jeruk nipis, beri, dll. Disebut air rasa atau air yang mengandung buah ini, dapat membantu menurunkan kadar gula darah karena memiliki nol kalori.

3. Teh hijau

Studi penelitian menunjukkan bahwa minum teh hijau dapat mengurangi risiko diabetes tipe 2 karena antioksidan polifenol yang ada di dalamnya. Penderita diabetes harus minum teh hijau karena membantu fungsi sistem metabolisme yang lebih baik.

4. Teh Liquorice

Liquorice adalah ramuan yang dikenal memiliki banyak manfaat kesehatan termasuk menurunkan kadar gula darah. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa mengkonsumsi ekstrak akar manis mungkin memiliki kemampuan untuk membantu mengurangi kadar gula darah pada penderita diabetes

5. Susu

Sebuah studi yang diterbitkan dalam American Journal of Clinical Nutritionmenemukan bahwa mengonsumsi produk susu termasuk susu selama masa remaja dapat mengurangi risiko diabetes tipe 2. 

6. Kopi

Peneliti kopi menemukan bahwa orang yang minum dua hingga tiga cangkir kopi per hari dapat menurunkan risiko diabetes tipe 2 . Kopi mengandung komponen aktif seperti asam quinic, asam klorogenat, lignan secoisolariciresinol dan trigonelline yang dikatakan dapat meningkatkan metabolisme glukosa.


Sumber: Akurat.co






Tuesday, November 12, 2019

Bahaya Diabetes Miletus Bisa Menyerang Anak-Anak

Sumber: Google

Diabetes Miletus adalah penyakit serius yang tidak mengenal usia, Penyebab diabetes melitus pada anak bukan karena faktor keturunan tapi penyakit autoimun ataupun infeksi virus. Menurut penelitian, angka diabetes anak ada sekitar 5-10 persen dari total keseluruhan pasien diabetes di sebuah negara. 

Dr. dr Nanis Sacharina, Dokter spesialis anak dalam konferensi pers Hari Diabetes di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (11/11).

"Jadi kalau dikatakan Indonesia ada sekitar 10 juta pasien diabetes, mungkin sekitar 10 persen dari sana ada pasien anak," ungkapnya.

Menurut dr. Nanis, diabetes melitus adalah sebuah penyakit yang terjadi akibat peningkatan gula darah di atas angka normal. Untuk anak-anak sendiri paling banyak terkena diabetes melitus tipe 1. 

Diabetes melitus tipe 1 adalah kelainan sistemik yang terjadi akibat gangguan metabolisme glukosa yang ditandai dengan hiperglikemia kronik. Keadaan ini terjadi karena kerusakan sel penghasil insulin di pankreas yang bertugas menjaga keseimbangan gula darah dalam tubuh.

"Hormon yang penting untuk mengatur gula darah adalah hormon insulin. Jadi hormon insulin kalau digambarkan seperti kunci dan sel itu pintunya," tambahnya.

Lebih lanjut dr. Nanis memberitahu ciri-ciri anak yang terkena diabetes, seperti banyak minum, banyak buang air kecil, banyak makan tapi berat badannya turun, tidak naik. 

"Itu mungkin yang awal harus diperhatikan orangtua. Kalau orangtua harus rutin timbang berat badan anak, kalau diatas dua tahun setahun sekali minimal harus timbang berat badan ya itu harus rutin. Kalau gak rutin gak ketahuan," tutupnya.


Sumber: Akurat.co

Monday, November 11, 2019

Faktor Penyebab Diabetes Miletus

Sumber: Google

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar penyakit diabetes melitus di Indonesia meningkat dari 6,9 menjadi 8,5 persen. Berdasarkan hasil diagnosa dokter turut meningkat dari 1,2 persen menjadi 2 persen. Faktor pengelolaan untuk menurunkan penyakit Diabetes Melitus (DM) di Indonesia mengalami beberapa kendala yang menjadi penyebabnya.

Menurut dr. Em Yunir, Sp.PD, KEMD, yang merupakan Sekretaris Jenderal Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni), ada tiga kendala pada pengelolaan diabetes dan faktor risiko, yakni sistem kesehatan, dokter, dan pasien.

Teknologi Dan Ekonomi Jadi Beberapa Penyebab Peningkatan Prevalensi Diabetes Melitus

"Pada sistem kesehatan menghadirkan kendala pada sistem pelayanan kesehatan, sistem penjaminan yang lemah, kurangnya staf pelayanan kesehatan, serta sistem rujukan yang rumit," jelasnya dalam konferensi pers memperingati Hari Diabetes Sedunia 2019 yang dihadiri AkuratHealth di Kementerian Kesehatan, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (11/11).

Untuk kendala dari dokter, dijelaskan dr. Em Yunir bahwa adanya komitmen yang kurang dari tenaga ahli medis untuk mengatasi diabetes. Motivasi yang rendah turut mengikuti.

Selain itu tidak sedikit dokter merasa kurang percaya diri dalam mengelola diabetes yang memerlukan beberapa obat. Lebih lanjut kurangnya waktu atau sumber informasi dan ketidakmampuan mengimplementasi pedoman dengan pasien jadi masalah lain yang belum bisa teratasi.

"Untuk faktor kendala dari pasien itu kurangnya kesadaran dan pemahaman tentang diabetes melitus, ada keengganan untuk minum obat seumur hidup karena takut komplikasi segala macam. Lalu ada perubahan gaya hidup, takut efek samping dari pengobatan seperti kenaikan berat badan dan hyplogycemia (gula darah rendah)," Ujarnya.


Sumber: Akurat.co