Showing posts with label Ibunda. Show all posts
Showing posts with label Ibunda. Show all posts

Monday, December 2, 2019

Penting Peran Orang Tua Tehadap Pertumbuhan Anak

Sumber: Google

Peran kedua orang tua sangat penting bagi anak, ibu adalah peran utama yang sangat penting bagi anak, tetapi mengenai hal tersebut bukan berarti seorang ayah tidak memiliki peran dalam pertumbuhan anak. Anak yang kurang mendapatkan perhatian akan mengalami hal yang tidak baik bagi pertumbuhannya. 

"Anak akan kurang mendapatkan pembelajaran, tidak ada transfer knowledge. Nantinya, setiap anak akan kesulitan menjalin interaksi dengan orang lain," lanjutnya. 

Seperti contoh, ketika anak tidak bisa membedakan komunikasi yang baik dengan seseorang, terutama wanita. 

"Efeknya itu ketika tidak paham, akan berkata keras ke pada wanita. Hal sekecil itu akan terjadi," tandasnya.

Aktifitas padat yang dilakukan orangtua, seperti sibuk bekerja, kerap kali membuat anak kurang mendapatkan kasih sayang ataupun pola asuh yang seharusnya didapatkan. 

Padahal, anak membutuhkan hal tersebut yang akan dibawa ke masa depan.



Sumber: Akurat.co


Thursday, November 28, 2019

Bunda Ini Cara Menangani Ketika Anak Berkata Kasar

Sumber: Google

Tingkah laku anak- anak memang terkadang mengejutkan terutama anak usia 3-5 tahun, karena pada usia tersebut dimana anak akan mendengan dan menghapal sembilan kata baru setiap harinya, yang ia dengar dari televisi, hingga percakapan orang di sekitarnya.

Banyak orang tua yang bingung menghadapi tingkah sang buah hati dalam peristiwa ini. Dilansir dari Parents, ada yang bisa orangtua lakukan untuk merespon ketika anak-anak melontarkan kata kotor.

Perhatikan anak lebih detil setelah mendapat penjelasan

Bila si kecil masih tetap memakai kata kotor setelah diberi penjelasan, evaluasi mengapa perilaku ini terjadi. Psikolog Emily Lowell, mengatakan, anak terkadang masih berperilaku demikian karena ada yang belum terpenuhi rasa penasarannya.

Tugas orangtua bisa mencari tahu dan membantu anak memenuhi rasa penasaran dengan cara yang baik. Misalnya saja, ketika anak mengucapkan kata kotor karena butuh perhatian, cari kesempatan untuk memujinya ketika ia berperilaku dan menggunakan bahasa yang sopan.

Terus Berkomunikasi

Timothy Jay, Ph.D, profesor psikologi di Massachusetts College of Liberal Arts, North Adams, mengatakan, anak-anak berusia lima hingga enam tahun banyak ingin tahu tentang bagian tubuh mereka dan perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan.

Jadi, jangan kaget anak akan ingin belajar tentang perbedaan fisik tersebut dan ingin membicarakannya. Tak perlu menghindari pertanyaannya, berikan informasi yang tepat sesuai usianya, tanpa harus membohongi.

So, jalin komunikasi dengan baik apapun pertanyaan sang buah hati. hal tersebut dapat membantu sang anak lebih terbuka, dan juga membuat anak percaya menceritakan tentang hal apapun kepada orangtua tanpa ada batasan.

Tetap tenang

Anak-anak penuh rasa ingin tahu. Jika ia menanyakan arti sebuah kata yang belum pernah diketahuinya sebelumnya, jawablah dengan tenang. Beri penjelasan yang bisa ia pahami dan jangan bereaksi berlebihan.

Karena, jika reaksi yang berlebihan justru membuat anak semakin penasaran. Cobalah untuk mengatakan, “Ini adalah kata yang dipakai oleh beberapa orang, tapi bukan kata yang baik dan tidak pantas untuk anak kecil”. Atau jelaskan padanya, “Kita tidak memakai kata seperti itu di keluarga kita”.


Sumber: Akurat.co



Monday, November 25, 2019

Bunda Ini Cara Mudah Cara Mudah Ajarkan Anak Untuk Bersikap Disiplin

Sumber: Google

Sikap disiplin sangat baik dan penting jika ditanamkan sejak kecil pada si buah hati, namun untuk menanamkan sikap tersebut penting untuk bunda mengtahui caranya agar anak benar benar menjadi dispilin. 

Berikut ada beberapa cara untuk mendisiplinkan anak-anakmu, sebagaimana yang dilansir dari BoldSky.

Aturan dan disiplin berjalan beriringan. Tanpa mematuhi aturan-aturan dasar tertentu, seseorang tidak bisa bersikap sopan dan disiplin. Karena itu, Kamu dapat menetapkan beberapa aturan untuk diikuti anak-anak. 

Kamu tidak perlu menjadi ‘tentara’ untuk mendisiplinkan anak-anak. Yang perlu Kamu lakukan hanyalah meminta beberapa aturan yang mudah diikuti, seperti bangun pagi, menyirami tanaman, menyelesaikan pekerjaan rumah tepat waktu, mengatur rak buku, dan pulang tepat waktu.


Tanggapi Kesalahan yang Dilakukan oleh Anak-anak

Kadang-kadang orangtua cenderung mengabaikan kesalahan anak-anak, berpikir mereka nantinya akan menyadari masalah ini. Tetapi Kamu harus tahu bahwa ini dapat mendorong anak-anak untuk melanggar peraturan dan melakukan kesalahan cukup sering. 

Mereka mungkin merasa benar-benar oke untuk tidak disiplin dan melakukan apapun yang tampaknya benar bagi mereka. Namun, bukan berarti Kamu harus memarahinya. Sebagai gantinya, Kamu dapat meminta mereka untuk berhenti melakukan kesalahan itu dan menyuruh mereka berperilaku dengan cara yang lebih baik.

Hindari Bersikap Terlalu Keras

Seringkali orangtua berpikir bahwa berteriak pada anak-anak akan membantu mendisiplinkan mereka. Namun, ini sepenuhnya hipotetis dan salah. Ada perbedaan antara bersikap tegas dan keras. 

Tegas tidak selalu terdiri dari menggunakan kekuatan fisik dan berteriak. Suara yang tegas dan rendah juga dapat menunjukkan keketatan. Berteriak atau menggunakan kekuatan fisik untuk mendisiplinkan anak-anak tidak pernah merupakan hal yang baik untuk dilakukan. Ini dapat memiliki dampak buruk pada anak-anak dan juga dapat membuat orangtua dan anak bermusuhan setelah waktu tertentu.

Cobalah Menjadi Sedikit Fleksibel Pada Suatu Waktu

Ada saat-saat ketika anak-anak mungkin tidak dapat mengikuti beberapa aturan yang  ditetapkan. Dalam situasi seperti itu, alih-alih memarahi mereka, Kamu bisa tetap sedikit fleksibel. Tapi pastikan jika mereka tidak bermaksud melanggar aturan tersebut.

Sebagai contoh, misalkan Kamy telah menetapkan waktu untuk anak-anak kembali ke rumah, tetapi karena mereka terjebak kemacetan atau hujan, Kamu tidak perlu meneriaki mereka. Sebaliknya, tanyakan alasan mereka terlambat. Ini dapat membantu membuat anak-anak disiplin dengan waktu yang berlalu.



Sumber: Akurat.co

Friday, October 25, 2019

Ayah Bunda Jangan Lakukan Hal Ini Dalam Mendidik Anak

Sumber: Google

Setiap orang tua pastilah menyangi anaknya. Tidak ada oang tua yang mengingkan keburukan untuk buah hati. Namun bunda dan ayah terkadang sebagai orang tua dalam hal mendidik dan mengasuh kita melakukan beberapa kesalah yang dapat membuat pertubuhan maupun mental anak terganggu. 

Meskipun orang tua tidak akan pernah menginginkan sesuatu yang salah atau buruk untuk anak mereka, lebih baik untuk mengetahui bagaimana kasih sayangmu berubah jadi ‘racun’.

Untuk itu, ketahui tanda-tanda apa yang mengubah Kamu menjadi toxic parentseperti yang dilansir dari The Health Site Online.
Memberi Label pada Anak 

Lebih mudah untuk memberi label perilaku anak. Namun, jika Kamu menganalisis, itu bisa saja tentang beberapa pilihan buruk yang ia buat atau suasana hatinya yang buruk. Dan biasanya orang tua memberi label pada anaknya sebagai masalah, malas, tidak sensitif, atau menyusahkan. 

Ingat, ini justu menguncinya dalam identitas negatif, dan mungkin sulit baginya untuk membawa perubahan positif dalam hidup. Sebaliknya, Kamu bisa fokus pada perilakunya dan cara-cara untuk memperbaikinya.

Meluapkan Frustasi pada Anak

Kamu mungkin memiliki lingkungan kerja yang penuh tekanan atau telah mengambil proyek pekerjaan yang membosankan. Kamu mungkin memiliki masalah pribadi atau keluarga di samping kehidupan kerjamu. Namun, menghilangkan rasa frustrasi pada anak itu tidak benar. 

Mungkin tidak selalu dalam bentuk kemarahan. Misalnya, Kamu pulang ke rumah setelah hari yang panjang dan melihat anak berlarian di sekitar rumah menunggumu pulang. Dan Kamu menyuruhnya meninggalkanmu sendirian karena sedang ingin beristirahat. Ini mungkin mengecewakan anakmu dan bahkan membuatnya terpisah darimu secara bertahap.


Membandingkan Anak dengan Orang Lain

Ini terjadi pada begitu banyak anak, mereka sering dibandingkan dengan anak-anak lain. Orangtua merasa bahwa anak dapat memahami masalah dengan mudah jika mereka menjelaskan dengan memberikan contoh orang lain. 

Pada kenyataannya, perbandingan tidak berfungsi sebagai motivasi apapun. Para ahli percaya bahwa agar anak tersebut menunjukkan perilaku yang baik, orang tua membandingkannya dengan teman dan saudara kandungnya. Tapi perbandingan itu membunuh harga dirinya. 

Sebaliknya, orangtua harus fokus pada individualitas anak mereka dan hal-hal yang mereka kuasai.

Tidak Membiarkan Anak Menjadi Mandiri

Ini mungkin cara untuk melindungi anakmu, tetapi ini bisa menjadi racun baginya. Jika dia masih muda, melakukan segalanya untuk sang buah hati justu dapat membuatnya malas atau tergantung padamu. 

Jika dia sudah dewasa, Kamu mungkin membuatnya merasa tidak kompeten jika terus melakukan segalanya untuknya. Biarkan dia mengambil langkahnya sendiri dan mendukung di mana pun ia butuhkan. Melakukan segalanya untuk anakmu dapat mencegahnya mengembangkan keterampilan penting. Satu-satunya hal yang harus Kamu pastikan adalah bahwa mereka memiliki tugas sesuai usia yang harus dilakukan.

Tidak Memperhatikan Kata-kata yang Diucapkan pada Anak

Saat berbicara dengan seorang anak, penting untuk mengetahui dan menyadari kata-kata yang Kamu gunakan. Dengan menggunakan frasa seperti 'Kamu tidak pernah melakukan ini' atau 'Kamu selalu menunjukkan perilaku seperti itu' meninggalkan sedikit atau tidak ada ruang bagi anak untuk berubah atau meningkat. 

Dia merasa bahwa orangtuanya telah memutuskan anak seperti apa dia dan dengan demikian, tidak berusaha untuk berubah. Jangan menyamaratakan perilakunya, atasi sesuai dengan situasinya. 

Misalnya, Kamu dapat mengatakan, 'Kamu tampaknya marah ketika Kamu tidak menemukan barang-barangmu' atau 'Kamu harus meletakkan barang-barangmu di tempat seperti yang saya jelaskan terakhir kali,’ ketika dia melakukan kesalahan yang sama terakhir kali.


Sumber: Akurat.co


Wednesday, October 16, 2019

Ibu Hamil Bermain Handphone Berpngaruh Pada Bayi


Taukah kalian para ibu yang sedang mengandung terlalu serng bermain ponsel dapat ternyata memiliki efek untuk anak dalam kandungan loh.

Sebuah penelitian telah mengungkapkan bahwa wanita hamil yang banyak menggunakan ponsel lebih mungkin melahirkan anak-anak dengan masalah perilaku.

Para ilmuwan di Denmark melakukan penelitian di mana mereka meneliti paparan prenatal dan postnatal pada ponsel dan masalah perilaku pada anak-anak. Penelitian ini dilakukan pada sekelompok wanita yang anak-anaknya berusia sekitar tujuh tahun. 

Mereka diberi kuesioner tentang kesehatan dan perilaku anak-anak mereka, dan riwayat mereka pada penggunaan telepon. 

Pada akhirnya, ditemukan bahwa anak-anak perempuan yang lebih terpapar ponsel sebelum dan sesudah melahirkan adalah hiperaktif dan memiliki beberapa masalah perilaku.

Tapi ini hanya satu studi dan itu tidak membangun hubungan yang kuat antara penggunaan ponsel selama kehamilan dan masalah perkembangan pada anak-anak.

Studi ini tidak dianggap sepenuhnya benar karena microwave, televisi, laptop, ponsel memancarkan gelombang radio tingkat rendah yang disebut radiasi elektromagnetik non-pengion.

Radiasinya lebih ringan daripada radiasi pengion, yang dipancarkan oleh sinar-X dan pemindai CT. Jadi, tidak mungkin itu berbahaya bagi anak yang belum lahir. Yang perlu digarisbawahi adalah meskipun penelitian ini tidak dapat membuktikan hubungan yang kuat, tetapi penting untuk sedikit berhati-hati dan membatasi penggunaan Anda.


Sumber: Akurat.co

Monday, September 30, 2019

Hindari Kalimat Berikut Saat Bicara Dengan Wanita Hamil

Sumber: Google

Wanita hamil memang memiliki hati yang sensitif. Suasana hati yang selalu berubah ubah. Untuk itu saat wanita hamil hindari kalimat berikut jika tidak ingin dimusuhi atau dimarahi:

“Akankah Anda Menyusui?”

Ini pertanyaan yang menyedihkan. Pertama-tama, bukan urusan Anda untuk menanyakan pertanyaan ini. Biarkan ibu dan dokter memutuskan apa yang harus dia lakukan. Menyusui adalah media awal melayani anak Anda dengan susu dan nutrisi, karenanya sangat ideal untuk hampir semua wanita hamil. Namun Anda tidak mengerti bila ada hal-hal yang menghambat, sehingga pertanyaan ini menyakitkan.

“Akankah Kembali Bekerja?”

Ambisi dan kehidupan pribadinya telah berbeda. Dia mungkin berkeinginan, tetapi juga dia harus memberikan perhatian yang ekstrim kepada anaknya dengan mengambil cuti dari pekerjaan atau sebaliknya. Jangan menambah frustrasinya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini.

“Apakah Anda Melakukan Pekerjaan Rumah?”

Anda tidak mengetahui kondisi fisiknya, maka tidak boleh membuat komentar tentang apa yang dia lakukan dan apa yang tidak. Wanita setelah melahirkan itu harus melakukan kegiatan sesuai petunjuk dokter. Jadi, jangan terlalu mencampurinya.


Sumber: Akurat.co

Cara Agar Anak Tidak Sering Main Gedget

Sumber: Google

Taukah bunda ada beberapa efek yang tidak bagus jika anak dibiarkan bermain gedget terus menusrus. Untuk itu bunda  Jangan Biarkan Anak Bermain Media Sosial Tanpa Dipantau! Ini Akibatnya

"Impact-nya ke orangtua karena anak terpapar akhirnya jadi komsumtif. Jadi anak ingin ini itu," kata Widuri, PLT Direktur Eksekutif ITC Watch Indonesia, saat dihubungi AkuratParenting, Senin, (30/9)

Bahkan dalam buku yang diterbitkan oleh Ahli Gizi, Juta Diwekar, berjudul 'Notes to Healthy Kids', banyak hal yang merugikan anak ketika sudah terpapar Gadget. Mereka bisa obesitas, mata memerah, hingga bahkan sampai memiliki harga diri yang rendah.

Untuk itu, peran orangtua sangat penting dalam hal penggunaan Gadget oleh anak. Berikut beberapa cara terbaik agar anak tak mengalami masalah tersebut dan impact yang akan diterima oleh orangtua. 

Tanpa Gadget 60 menit sebelum tidur

Hal ini untuk memastikan ia tidur lebih nyenyak. Beberapa hormon pertumbuhan akan berkerja saat anak tertidur. Karena jika ia kurang tidur, akan memunculkan masalah kesehatan baru.

Makan tanpa Gadget

Hal ini berguna untuk anak belajar memperhatikan makanan. Ini akan meningkatkan sensitivitas leptin dan mencegah episode makan berlebihan di masa mendatang, dan berperan menanamkan pentingnya waktu makan. 

Sumber: Akurat.co

Tuesday, July 30, 2019

Pesan Ibunda Cut Meyriska Untuk Hubungan Roger dan Cut Meyriska

Sumber: Google

Kebahagiaan tengah menyelimuti pasangan Roger Danuarta  dan Cut Meyriska setelah melakukan acara lamaran dengan lancar.

Bukan hal yang mudah untuk Roger meyakinkan keluarga Cut Meyriska. Apalagi sang ayah, Suryadi AK sempat menolak Roger lantaran adanya perbedaan agama keyakinan dan masa lalu Roger yang pernah terjerat kasus narkoba.

Namun seiring berjalannya waktu kegigihan dan ketulusan cinta Roger berhasil meluluhkan hati Suryadi. Bahkan sang ibunda kini mendoakan kelak rumah tangga Cut Meyriska dan Roger Danuarta senantiasa bahagia.

Selain itu, ia berharap saat berumah tangga nanti Roger dan Cut Meyriska menjadi pribadi yang lebih lagi.

"Harapannya pasti ingin (Cut Meyriska dan Roger Danuarta menjadi) bahagia, lebih baik. Itu saja sih," kata Cut Suharnita saat dihubungi AKURAT.CO, Selasa (30/7).

Bakal menjadi menantu, Cut Suharnita menyebutkan kalau Roger Danuarta tak minta wejangan secara khusus padanya. Baginya biasa-biasa saja.

"(Roger) Gak ada (minta wejangan). Biasa aja," tambahnya.

Diketahui, Cut Meyriska dan Roger Danuarta dikabarkan bakal menikah pada 25 Agustus 2019. Sebelum acara pernikahan digelar, ternyata Roger sudah menyatakan keseriusannya untuk merencanakan langkah yang lebih serius lagi kepada Cut Meyriska pada 16 April 2019. Roger mengutarakan hal itu kepada Cut Meyriska di Puncak, Jawa Barat.

"Hari ini gue sudah mempersiapkan segalanya, gue mau melamar Bebe doakan ya," ungkap Roger dalam vlog yang berjudul #ROGERCHIKAJOURNEY.

Dalam vlognya, Roger telah menyusun rencana spesial untuk pujaan hatinya itu. Bersama teman-teman Cut Meyriska, Roger membuat kejutan tersebut.

Cut Meyriska terlebih dulu diajak naik Paralayang. Setelah mendarat, Cut Meyriska membaca kata-kata yang sudah disiapkan Roger.

"Bebe, will you marry me?," tulis Roger dalam vlog tersebut.

"I love you so much, will you marry me?," tanya Roger.

"Yes I do," jawab Cut Meyriska yang diikuti dengan anggukan kepala.


Sumber: Akurat.co