Monday, February 18, 2019

Hasil Pertemuan Anang Ashanty Dengan Jernix

Sumber: Google

Anang Hermansyah dan Ashanty  bertemu dengan Jerinx SID di Bali pada seinin ( 18/02).

pertemuan tersebut mereka abadikan melalui akun sosial media priadi masing-masing.

Akan tetapi pada pertemuan tersebut, Jernix mengatakan bahwa pertemuan tersebut tidak menemukan titik terang atapun sebuah kesepakatan.

Bahkan lelaki berusia 42 tahun itu malah menuduh Anang-Ashanty sengaja menyebar foto pertemuan mereka demi menyelamatkan nama Anang.

“Pertemuan dgn @ananghijau sore tadi tidak ada titik temu. Foto-foto saya & Anang yg disebar @ashanty_ash di socmed nya cuma move tuk selamatkan nama Anang," tulis Jerinx, dikutip Selasa (19/2).

Lebih lanjut, pemilik nama I Gede Ari Astina itu berjanji akan mengungkapkan isi pertemuannya dengan Anang dan Ashanty.

"Untuk yg sebenarnya terjadi, saksikan di kanal @jrx_tv lusa nanti. Ga ada iklannya kok. Gaji saya 38jt/bulan, kata bunda," sambungnya.

Ia juga menegaskan bahwa foto pelukan dan salaman dengan Anang yang beredar di linimasa tak berarti dirinya sepakat dengan pelantun lagu Separuh Jiwaku pergi itu.

Menurutnya itu hanyalah caranya menghargai Anang-Ashanty yang secara khusus sudah datang ke Bali untuk berjumpa dengannya.

"PS: pelukan/salaman ga berarti sepakat, saya peluk/salamin Anang 100% tuk hargai niatnya jauh-jauh ke Bali cuma buat temui saya," pungkasnya.


Diketahui, Anang dan Jerinx memang dikabarkan tengah berseteru perihal draft RUU Permusikan yang dirancang oleh Komisi X DPR RI.

Jerinx, yang menolak beberapa pasal dalam RUU tersebut pun melontarkan protesnya pada Anang, selaku anggota Komisi X DPR, melalui media sosial.

Tak terima suaminya disudutkan, Ashanty pun sempat berniat melaporkan Jerinx. Sementara, pria 42 tahun itu malah mengajak Anang untuk berdebat secara langsung.

Keduanya pernah direncanakan bakal berdebat secara live di sebuah stasiun pada 13 Februari lalu. Namun, pertemuan itu tak pernah terjadi.

Sumber: Akurat.co

Direktur Utama PT.Pertamina Bantah Pernytaan Prabowo Subianto Terkait Impor Bahan Bakar

Sumber: Google

Nocke Widyawati Direktur Utama PT.Pertamina membantah pernyataan Prabowo Subianto terkait impor Bahan Bakar Minyak (BBM) 100 % yang akan dilakukan Indonesia dalam waktu dekat.

"Tidak mungkin. Kita saja sejak hari ini produksi kita 800 ribu barel per hari dari kilang yang sekarang," jelas Nicke ketika ditemui di Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Jakarta, Senin (18/2/2019).

Pimpinan Holding BUMN Minyak GAS (Migas) menjelaskan saat ini pihaknya sedang membangun Kilang Balik Papan, maka dengan begitu akan mengatur tambahan kapasitas 100 ribu barel.

"Kita juga akan membangun kilang-kilang lainnya. Sehingga dalam 2026 kapasitas terpasang kilang kila menjadi 2 juta barel per hari," tuturnya.

Lebih lanjut ia juga meminta support dari semua pihak agar kedepan apabila keseluruhan proses tersebut selesai, Indonesia tidak akan lagi impor BBM.

Sebelumnya, Calon Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto mengatakan, Indonesia sebentar lagi akan impor BBM 100 persen. Hal itu dikatakannya dalam debat pemilihan presiden 2019 babak kedua yang digelar di Hotel Sultan Jakarta, Minggu (17/2/2019) malam. 

"Kita dalam waktu dekat akan menjadi net importir. Kita akan impor 100 persen bahan bakar minyak kita," ujarnya.

Untuk itu, ia menyarankan agar kelapa sawit bisa menjadi tambahan bahan bakar Indonesia. Ketua Umum Gerindra tersebut juga menegaskan, sawit bisa menjadi biodiesel dan bisa meningkatkan pendapatan petani yang sekarang sedang jatuh.

"Kita bisa meningkatkan harga dan juga harus konsekuen untuk meningkatkan kesejahteraan Perkebunan Inti Rakyat," Ujarnya.

Sumber: Akurat.co

3 Trio Andalan Indra Sjafri Dalam Pertandingan Indonesia VS Myanmar


Sumber: Google


Dalam pertandingan pertama Grup B, pelatih Timnas U-22, Indra Sjafri menurunkan formasi 4-3-3. Coach Indra menurunkan trio Witan Sulaiman, Osvaldo Haay, dan Dimas Drajad.

Sementara itu untuk lini tengah, mantan pelatih Bali United tersebut menurunkan trio Gian Zola, Luthfi Kamal, dan Hanif Sjahbandi.


Di lini pertahanan, coach Indra mengandalkan duet Andy Setyo dan Rahmat Irianto untuk menjadi tembok bagi kiper Awan Setho.

Indonesia U-22 (4-3-3): Awan Setho; Samuel, Andy Setyo, Rahmat Irianto, Asnawi Mangkualam; Gian Zola, Luthfi Kamal, Hanif Sjahbandi; Osvaldo Haay, Witan Sulaiman, Dimas Drajad.

Sumber: Akurat.co

Joko Widodo Menegaskan Bahwa Apa Yang Beliau Sampaikan Sesuai Fakta

Sumber: Google

Dengan tegas Joko Widodo calon Presiden Nomor Urut 01 menjelaskan bahwa apa yang beliau sampaikan berdasarkan dara dari kementrian terkait. Bukan sebuah opini atau karangan dirinya sendiri.

"Kita ini menyampaikan data dari kementerian, bukan karangan saya sendiri," jelas Jokowi saat ditemui di Pandeglang, Senin (18/2/2019).

Jokowi juga menjelaskan data Kementerian Pertanian terkait impor jagung tercatat sebesar 180 ribu ton. Dia juga menjelaskan Kementerian Perdagangan mencatatkan data yang sama pada angka 180 ribu ton.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor jagung pada 2018 mencapai 737,22 ribu ton.

"Ya coba dicek saja. Bisa saja itu kuota tapi tidak terealisasi," ucap Jokowi.

Selain itu terkait kebakaran hutan, Jokowi menjelaskan dalam tiga tahun terdapat penurunan drastis.

"Turun drastis, turun 85 persen lebih. Artinya sekarang kan nggak ada yang namanya pesawat nggak bisa turun, nggak bisa naik kaya dulu. Keluhan-keluhan di provinsi mengenai asap juga nggak ada, negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia juga tidak mengeluh mengenai bencana asap," ujarnya.

Sumber: Akurat.co

Prabowo Subianto: Program Pembagian TanahTidak Tepat Sasaran


Sumber: Google

Menurut pak Prabowo Subianto program pengentasan kemiskinan dan konflik lahan pemerintah Joko Widodo pembagian lebih dari tujuh juta sertifikat dinilai tidak tepat pada sasaran. Karena menurutnya hal tersebut akan mengakibatkan tidak adanya lahan yang akan di bagikan dimasa depan nanti. Hal ini karena menurut Prabowo, bagi-bagi tanah itu tidak menguntungkan bagi anak dan cucu kedepannya dan bahwa sesungguhnya sumber daya alam dikuasai negara berdasarkan UUD45 ayat 33.. 

“Kami punya pandangan berbeda, yang dilakukan Jokowi ini menarik dan populer untuk satu sampai 2 generasi, namun tanah tidak tambah dan bangsa Indonesia semakin bertambah dan nantinya tidak ada lahan untuk dibagi jadi bagaimana nanti untuk anak dan cucu, dan menurut UU45 ayat 33 bumi dan air semuanya dikuasi negara,” kata Prabowo dalam Debat Pilpres 2019 di hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2/2019).

Akan tetapi Joko Widodo membantah karena menurutnya lahan yang bersertifkikat itu dapat menjadi jaminan hukum untuk mereka. Adanya sertifikat ini dapat menjadi tempat untuk peningkatan akses keuangan mereka.

“Dalam dua tahun ini kita telah membagian konsensi - konsensi lewat pembangunan untuk petani, nelayan sebanyak 2,6 juta hektar dan 12,7 yang kita siarkan kita juga mendampingi mereka agar taman – tanaman produktif, ada taman - tanaman kopi, jagung, tidak menerbitkan konsensi lahan tetapi memberikan pendampingan. Ada lebih dari 7 juta sertifikat agar mereka punya hak ukur yang di tanah tadi. Dengan hak sertifikat, ini jaminan hukum dan peningkatan akses keuangan mereka. memiliiki pentingnya redistribusi aset 12,7 terdistribusi,” kata Jokowi di acara yang sama.

Jokowi menegaskan lahan tersebut justru tidak dilakukan untuk penguasaan lahan. Hal ini karena pembagian lahan ini tidak sebesar seperti luasnya lahan yang dimiliki Prabowo.

“Tidak ada Pembagian yang tadi hampir 2,6 juta agar produktf. Kita tidak beri lahan yang besar – besar, seperti lahan Prabowo di Kalimantan Timur sebesar 220 ribu hektare, aceh tengah 110 ribu hektare,” tambah Jokowi.

Sumber: Akurat.co

Sunday, February 17, 2019

Jokowi: Tol Laut Masa Depan Ekonomi Indonesia

Sumber: Google

Jokowi dodo Capres Nomor Urut 01 menjelaskan bahwa bagian bawah laut adalah masa depan ekonomi Indonesia sehingga infrastruktur yang bekaitan dengan laut harus di rapihkan secara besar-besaran.

“Infrastruktur yang berkaitan dengan laut dibenahi besar-besaran. Tol laut kita terus kerjakan, terutama di Indonesia bagian timur,” jelasnya dalam dalam Debat Capres Jilid 2 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2/2019).

Jokowi juga menjelaskan menurutnya dengan konsistensi pembangunan tol laut makan akan memberikan manfaat besar bagi negara.

Menaggapi hal tersebut, Capres Nomor Urut 02 memberi tanggapannya dengan menilai bahwa menurutnya saat ini yang menjadi masalahnya adalah  tidak adanya akses nelayan miskin terhadap teknologi dan kapal. Selain itu, Ketua Umum Gerindra ini juga menyatakan para nelayan tersebut juga dibatasi modal dan peraturan yang ada.

Lebih lanjut Prabowo menegaskan apabila ia terpilih menjadi Presiden ia akan membuat BUMN khusu untuk laut dan perikanan.

“Kami juga akan melatih masyarakat dan teknologi dan modal lain-lain sampai pada produksi,” tandasnya.

Pengamat Ekonomi Kedua Capres Dinilai Tidak Miliki Strategi Mengatasi Impor Pangan

Sumber: Google

Suroto pengamat ekonomi memberikan penilaian diamana menurutnya kedua Capres tidak memiliki strategi dalam mengatasi impor pangan.

"Strategi kebijakan jangka pendek untuk keluar dari jebakan importasi pangan tidak ada, sama sekali tidak disinggung," kata Suroto yang juga Ketua Lembaga Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (Akses) di Jakarta, Senin (18/2/2019).

Dilansir dari Antara, menurutnya kedua Capres cenderung hanya ingin membangun ketahanan pangan semata.

Keduanya, di anggap tidak memiliki keinginan yang kuat untuk membangun kedaulatan pangan.

"Antagonisme harga baik buat petani dan konsumen, dimana petani butuh harga tinggi dan konsumen ingin harga murah itu, ya harus diselesaikan secara institusional," katanya.

Menurut dia, bila rantai pasar sudah dihentikan dengan cara apapun namun struktur pasar tidak dirombak, maka tidak akan mengubah keadaan.

"Ini artinya tidak ada komitmen untuk membangun kedaulatan pangan," katanya.

Ongkos "input" dan "output" petani di Indonesia, kata dia, semakin berat dari waktu ke waktu.

"Ketika panen beras mereka paling pertama beli beras pertama dan habis panen mau tanam sudah utang lagi," katanya.

Suroto mengamati di manapun pertanian budi daya atau "on farm" memiliki kecenderungan margin atau keuntungan yang rendah dan rentan terhadap perubahan cuaca.

Maka, ketika semakin dipaksa produksinya juga akan menciptakan penurunan harga ketika produksi melimpah.

"Dilema harga ini tidak akan bisa ditanggulangi, kalau tidak ada organisasi petani dan pembudi daya yang kuat dan mampu mengintegrasikan sektor 'on farm' dan 'off farm'," katanya.

Suroto juga menyayangkan ketika kedua Capres juga tidak menyinggung persoalan industrialisasi sektor primer pangan.

"Padahal, untuk memotong persoalan importasi pangan barang jadi itu kan di soal ini. Pertanian rumah tangga dan juga industri rumah tangga kan intinya di sini," ujarnya. 

Sumber: Akurat.co